Landasan Nama dan Identitas
Nama Institut Bahri Asyiq dipilih sebagai penghormatan terhadap Bahri Asyiq, cucu dari KH. Ibrohim Baijuri – tokoh penyebar Islam di kawasan Kecamatan Galis dan nama yang sebelumnya menjadi identitas STITAL melalui istilah Al-Ibrohimy. Penamaan ini menegaskan kesinambungan sejarah keilmuan, silsilah spiritual, serta kontribusi keluarga besar pesantren dalam pendidikan.KH.
Tonggak Resmi Perubahan
Perubahan bentuk resmi ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1212 Tahun 2025. Dengan keputusan tersebut, INSTIBA memperoleh legalitas sebagai institusi pendidikan tinggi Islam yang membawahi dua fakultas dan lima Program Studi. Momentum ini menjadi penanda era baru bagi kampus, sekaligus memperluas mandat akademik—dari sekadar penyelenggara program studi kependidikan Islam menjadi lembaga yang menaungi berbagai disiplin ilmu, baik pendidikan, syariah, maupun dakwah.
Arah Perkembangan dan Komitmen Akademik
Sebagai institut, INSTIBA mengusung visi menjadi perguruan tinggi Islam yang unggul, Visoner, dan transformatif pada tahun 2045 serta menjadi pusat kajian keilmuan Islam yang berpijak pada integrasi turats (warisan keilmuan Islam klasik) dengan tajdid (pembaruan ilmu dan pendekatan modern).
Penguatan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), digitalisasi akademik, serta kolaborasi dengan pesantren, pemerintah daerah, dan lembaga eksternal menjadi pilar utama pengembangan kampus.