Sejarah Instiba

Transformasi Institut Bahri Asyiq Galis Bangkalan (INSTIBA), merupakan kelanjutan perjalanan panjang pendidikan tinggi Islam di bawah Yayasan Pendidikan Islam Al-Ibrohimy. Perubahan bentuk ini menandai fase baru dalam pengembangan kelembagaan, visi akademik, serta kontribusi terhadap penguatan keilmuan Islam di Madura, khususnya wilayah Kabupaten Bangkalan.

Awal Transformasi

Setelah lebih dari satu dekade beroperasi sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Ibrohimy (STITAL) dengan fokus pada pendidikan Islam, kebutuhan akan perluasan bidang keilmuan semakin nyata. Perkembangan jumlah mahasiswa, peningkatan mutu akademik, serta perluasan jejaring kelembagaan menjadi dasar lahirnya gagasan untuk meningkatkan status STITAL menjadi institut.

Proses transformasi ini tidak hanya bersifat administratif, melainkan juga mencerminkan komitmen strategis untuk menghadirkan lembaga pendidikan tinggi Islam yang lebih luas bidang kajiannya, relevan dengan tantangan zaman, dan tetap berakar pada nilai-nilai pendidikan pesantren.

Landasan Nama dan Identitas

Nama Institut Bahri Asyiq dipilih sebagai penghormatan terhadap Bahri Asyiq, cucu dari KH. Ibrohim Baijuri – tokoh penyebar Islam di kawasan Kecamatan Galis dan nama yang sebelumnya menjadi identitas STITAL melalui istilah Al-Ibrohimy. Penamaan ini menegaskan kesinambungan sejarah keilmuan, silsilah spiritual, serta kontribusi keluarga besar pesantren dalam pendidikan.KH. 

Tonggak Resmi Perubahan

Perubahan bentuk resmi ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1212 Tahun 2025. Dengan keputusan tersebut, INSTIBA memperoleh legalitas sebagai institusi pendidikan tinggi Islam yang membawahi dua fakultas dan lima Program Studi. Momentum ini menjadi penanda era baru bagi kampus, sekaligus memperluas mandat akademik—dari sekadar penyelenggara program studi kependidikan Islam menjadi lembaga yang menaungi berbagai disiplin ilmu, baik pendidikan, syariah, maupun dakwah.

Arah Perkembangan dan Komitmen Akademik

Sebagai institut, INSTIBA mengusung visi menjadi perguruan tinggi Islam yang unggul, Visoner, dan transformatif pada tahun 2045 serta menjadi pusat kajian keilmuan Islam yang berpijak pada integrasi turats (warisan keilmuan Islam klasik) dengan tajdid (pembaruan ilmu dan pendekatan modern).

Penguatan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), digitalisasi akademik, serta kolaborasi dengan pesantren, pemerintah daerah, dan lembaga eksternal menjadi pilar utama pengembangan kampus.

Penutup

Transformasi dari STITAL menuju Institut Bahri Asyiq bukan sekadar perubahan nama atau struktur. Ia merupakan evolusi visi, perluasan cakupan akademik, dan bukti konsistensi perjuangan Yayasan Pendidikan Islam Al-Ibrohimy dalam mencetak generasi berilmu, berkarakter, dan berkontribusi bagi umat dan bangsa.